Minggu, 29 Juli 2012

Cinta ibu bangkitkan keluargaku




Adalah sebuah kisah dari negeri Andalas pada masa nan modern dan berteknologi canggih ini. Tersebutlah dalam alkisah ini seorang wanita yang hebat. Seorang wanita yang menjadi panutan hidup bagi tiga pemuda belia yang hidup dekat dengannya. Eseeh, bisa juga ternyata saya nulis kaya beginian, hehehe… Udah ah, saya langsung aja ke topic pembahasan artikel ini J

Saya ada punya  idola, idola wanita
Bukan Agnes Monica,  bukan pula Gisella
Idola saya adalah saya punya ibunda
Yang telah bersusah payah untuk membesarkan saya.

Yup… Saya punya sosok ibunda yang punya jasa yang tak terbantahkan di kehidupan saya. Beliau bernama Nurlatifah Lubis, seorang rendah hati yang tidak pernah mau memakai nama ijazahnya yang bertitel meskipun sebenarnya beliau adalah sarjana muda D-II Matematika.

Kali ini saya akan menceritakan tentang sosok wanita paruh baya yang masih kelihatan muda, hehehe. Ibu saya lahir pada tanggal 10 Desember 1968 di Tapanuli Selatan. Beliau bertemu dengan ayah saya dan kemudian menikah pada tahun 1991. (Loh, kita kok ga dikenalin ama bapak ente sih bro Ricky?). Berhubung sekarang topiknya ibunda saya, maka masalah ayahanda saya kita kesampingkan saja dulu ya, hehehe. Ibu saya pernah berkarir sebagai guru Matematika dulunya. Sampai suatu ketika keluarga kami pindah ke tempat lain karena ayah saya dipindah tugaskan oleh perusahaan tempat ayah saya bekerja. Disinilah cerita tentang ibu dimulai.

Sudah tiga tahun lamanya semenjak kepindahan keluarga kami. Ayah dan ibu yang sudah bosan jadi pegawai pun mengundurkan diri dari tempat kerja masing-masing. Ayah dan ibu memutuskan untuk menjadi wiraswastawan.

Ibu memulai karirnya sebagai pedagang ayam ras broiler. Merintis usaha dagangnya ini bukanlah hal yang mudah buat ibu. Begitu banyak cobaan yang diderita ibu dalam karirnya. Cobaan yang tiap hari memaksa ibu menjadi wanita yang lebih kuat. Mulai dari banyaknya orang yang tidak senang dengan usaha ibu yang baru, beberapa kali kehabisan modal karena kerugian yang besar, hutang dagang yang menumpuk, ditipu rekan bisnis dan masih banyak derita lain yang harus ditanggung ibu.

Mungkin teman-teman pembaca bertanya-tanya dalam hati, apa yang ayah saya lakukan melihat istrinya diterpa ujian yang bertubi-tubi ini. Sangat disayangkan, ayah saya tidak bisa banyak membantu karena sebenarnya kondisi ayah sama memprihatinkannya dengan ibu. Usaha ayah berkali-kali mengalami kerugian.

Ibu… wanita yang tabah ini tetap berusaha memperjuangkan keluarganya sampai pada akhirnya beliau berhasil membawa kami kembali menjadi keluarga yang mapan dan berkecukupan. Besarnya cinta dan keyakinan ibu membuatnya berhasil menggapai hal yang sulit sekalipun. Sebuah pelajaran moral dapat kita petik dari kisah kehidupan wanita seperti ibu saya ini, yaitu seberapa beratpun rasanya ujian yang kita terima dari Tuhan, jangan pernah mengeluh, bekerja keraslah maka kita akan merasakan hasilnya.

Habis gelap terbitlah terang, kesedihan telah berganti kebahagiaan, waktu demi waktu pun berlalu tanpa ada satu waktupun yang luput dari siraman cinta ibu. Beliau yang selalu bangun jam empat subuh untuk mempersiapkan sarapan untuk suami dan anak-anaknya tanpa ada rasa pamrih terlintas di hatinya. Semua ini dilakukan oleh ibu tanpa mengeluh. Ibu bukanlah orang yang beranggapan bahwa uang saja sudah cukup membuat anaknya bahagia. Beliau selalu menyempatkan diri di hari-hari liburnya untuk menemani kami, anak-anaknya pergi berekreasi. Sosok ibu yang selalu berusaha membuat anak-anaknya tetap tersenyum meskipun jutaan rintangan menanti beliau untuk itu. Cinta ibu inilah yang membuat kami bangga menjadi anak-anaknya.

Sampai saat ini, ibu tidak berubah sedikitpun. Meskipun beliau akhirnya harus menjadi janda sebatang kara yang memperjuangkan nasib anak-anaknya sendirian setelah beliau diceraikan oleh ayah kami dengan alasan yang tidak saya ketahui. Biarkan sajalah itu tetap menjadi misteri, mungkin lebih baik saya tidak tahu. Untuk apa saya memusingkan hal itu, sementara ibu saja sekarang ini terlihat lebih bahagia, lebih tegar dan lebih cantik, hehehe.

Satu hal yang kami anak-anak ibu banggakan dari beliau, apa itu?... hal itu adalah hal yang banyak di lewatkan orang lain, bahkan oleh kami anak-anaknya. Yaitu ibu selalu menjaga hubungannya dengan Allah SWT. Ibu tidak pernah lupa pada Tuhan-nya meskipun disaat suka maupun duka. Mungkin inilah yang membuat ibu selalu tegar dan kuat.

Sungguh … beliau adalah ibu yang mengagumkan.

Pernah sekali, ketika ibu mengaji di kamarnya. Saat itu saya, adik-adik dan ayah sedang menonton televisi. Saya mendengar alunan ayat-ayat suci Al-Qur’an itu mengalir dengan indahnya dari bibir ibu. Saya sempat berkata takjub, “Mama kalau mengaji bagus kali lah ya…”. Lalu ayah saya menimpali, ”wajarlah, dulu semasa ibumu masih SMA, beliau pernah menjadi juara MTQ se-Kabupaten”. Begitu kalau tidak salah yang saya dengar dari ayah, saya tidak begitu ingat. Tapi yang jelas, saya berani menjamin, bahwa ibu tidak kalah dengan para santri yang ikutan MTQ itu.

Hal itu membuat saya yakin, bahwa selama ini Tuhan-lah yang membantu ibu dalam setiap kesulitannya. Saya menjadi yakin bahwa kedekatan ibu dengan Tuhan-lah yang membuatnya menjadi wanita yang kuat. Dan jelas, saya sebagai anak beliau merasa bangga dan akan terus mencoba menjadi orang yang lebih baik dan lebih baik lagi, selalu.

Kayaknya tulisan saya udah kepanjangan nih… ya sudahlah, kayaknya sampai disini aja ceritanya? (ada cerita apaan emang???). Mudah-mudahan apa yang saya tulis ini bermanfaat bagi orang lain, lumayan juga kan pahalanya bulan puasa gini,hehehe.

Jangan pernah merasa Tuhan berlaku tidak adil…
karena dibalik tiap cobaan pasti ada kenikmatan…

            Akhir kata, saya ucapkan terima kasih karena sudah mampir dan Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh. Tulisan ini saya tulis untuk diikutsertakan dalam kontes Fastron Blogging Challenge. Sampai jumpa J
  

4 comments:

Ananta Bangun mengatakan...

Rajut aksara yang menyentuh kalbu. Sosok ibu, tidak terbantahkan, adalah tema yang baik untuk menjadi sumber ilham. :)

Rizki Ramadhan mengatakan...

Terima kasih brother, tulisan saya ini masih banyak kekurangannya disana sini brother... saya masih harus banyak belajar :)

Ridho mengatakan...

Tak semua orang sempat mengungkapkan kehebatan orangtuanya dengan tulisan. Semoga tulisan ini mengingatkannya... Salam buat keluarga ya :)

Rizki Ramadhan mengatakan...

wah, makasih mas ridho, mudah-mudahan apa yang mas ridho utarakan ini benar-benar bisa membangkitkan keinginan pembaca lain untuk menulis :)

Poskan Komentar